Waka Polda Kepri Beri Pemahaman Wawasan Kebangsaan Untuk Personil

oleh
Pemaparan oleh Waka Polda Kepri Brigjen Pol Drs. Didi Haryono tentang pemahaman wawasan berkebangsaan dan kebhinekaan untuk personil. (dok)

Patrolmedia.co.id, Batam – Dalam kegiatan tatap muka, Kepolisian Daerah Kepri menggelar sosialisasi tentang pemahaman wawasan kebangsaan, NKRI dan Kebhinekaan bagi Personel Polda Kepri, Kamis (7/9/2017) pukul 08.30 wib di Graha Lancang Kuning Polda Kepri.

Waka Polda Kepri Brigjen Pol Drs. Didi Haryono, SH, MH menyampaikan, semua personel Polda Kepri telah punya cukup bekal mengenai wawasan kebangsaan. Namun tentu dalam pelaksanaan tugas-tugas kenegaraan ke depan, akan dihadapkan dengan praktik dan mungkin akan banyak sekali hal-hal baru yang sebelumnya tidak diketahui. Untuk itu, sosialisasi tersebut dipersiapkan. Acara ini juga tidak terlepas dari kesepakatan bersama sebagai sebuah bangsa, yaitu bahwa hidup dalam sebuah negara yang punya 4 pilar kenegaraan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Empat pilar ini akan menopang usaha kita untuk mencapai bangunan kebangsaan dan seluruh cita-citanya yaitu Indonesia yang maju, makmur dan sejahtera yang merupakan cerminan dari kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan di seluruh daerah tanpa kecuali,” ujar Didi dalam pidatonya, Kamis (7/9/2017).

Saat ini, lanjut Didi, wawasan kebangsaan menjadi suatu hal yang tidak populer, baik di kalangan generasi muda maupun golongan masyarakat lainnya. Telah berkembang fenomena sifat yang individualistis, solidaritas kelompok yang sempit dengan berlatar belakang suku, agama, ras dan adat istiadat maupun kelompok kepentingan lainnya.

Berbagai masalah kebangsaan yang timbul belakangan ini akan dapat diatasi secara beradab dan elegan apabila terdapat toleransi dan kebenaran tidak lagi menjadi monopoli mayoritas.

“Penyelesaian setiap masalah seyogyanya dapat dilakukan secara musyawarah untuk mencapai kesepakatan, bukan melalui tekanan yang diciptakan melalui aksi anarkis. Bahkan, maklumat Indonesia mengatakan tidak ada yang boleh memonopoli kebenaran, dan kebenaran seharusnya tidak diperoleh melalui pendekatan mayoritas, melalui voting, misalnya,” katanya.

Upaya memperoleh kebenaran melalui cara-cara tersebut mengakibatkan kebenaran menjadi milik kelompok yang paling banyak, paling besar, paling kaya, dan paling kuat. “Budaya kita masih memberi peluang untuk memperjuangkan kebenaran melalui cara-cara yang santun dan elegan,” ucapnya.

Kemudian juga dijelaskan, cara pandang terhadap wawasan kebangsaan harus dilakukan secara menyeluruh. Bangsa yang besar seperti Indonesia, yang memiliki kurang lebih 17 ribu pulau, baik yang besar maupun kecil, yang terhampar dari ujung Aceh sampai Papua, seperti luas dataran Eropa dari London sampai Ankara, harus dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh. Salah satu isu pembangunan yang banyak meminta pemikiran saat ini adalah kesenjangan sosial dan kesejahteraan antar daerah.

“Kita bisa melihat perbedaan kemajuan daerah yang satu dengan yang lain. Dalam wawasan kebangsaan hal ini seharusnya tidak terjadi, bahkan, kenyataan yang terjadi dalam suatu masyarakat yang sama terdapat jarak ekonomi yang terlalu lebar di antara warganya,” ucap Didi.

“Semoga kita makin cinta dengan tanah air Indonesia dan mewujudkan cinta itu dalam kinerja yang nyata,” timpal Didi.

Acara tersebut dihadiri Narasumber dari Lemhanas Brigjen Pol Drs. Mulyatno, Irwasda Polda Kepri, para pejabat utama Polda Kepri, serta para personel Polda Kepri. (Chandra/Rls)