Religi  

Waraqah bin Naufal, Nasrani yang Mengakui Kenabian Muhammad

Ilustrasu wahyu Tuhan yang diturunkan.
Ilustrasi wahyu Tuhan yang diturunkan.

Patrolmedia.co.id – Saat Rasulullah menerima wahyu pertama di awal kenabiannya, Muhammad ragu dengan apa yang dialaminya.

Muhammad bergegas pulang ke rumah dan menemui istrinya Sayyidah Khadijah atau dikenal Siti Khadijah.

Keagungan wahyu pertama yang diturunkan Allah yakni surah Al-Alaq ayat 1-5 di Gua Hira yang sangat menggetarkan Rasulullah. Penuh kekhawatiran, Muhammad pun meminta Khadijah untuk menyelimutinya.

Seperti diketahui, Al-Alaq merupakan surat ke-96 dan terdiri atas 19 ayat secara totalnya. Surah ini tergolong dalam surat (fase) Makkiyah atau ayat-ayat al-Qur’an yang turun sebelum Muhammad hijrah ke Madinah.

Dilanjutkan, saat itu Muhammad menceritakan semua peristiwa yang dialaminya kepada istrinya. Usai mendengar yang dialami Muhammad, Khadijah mengajak suaminya menemui putra pamannya yakni Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza yang juga menulis kitab Injil berbahasa Ibrani.

Kemudian pergilah Khadijah dan Muhammad menemui Waraqah bin Naufal, saudara sepupunya itu.

Saat bertemu Waraqah, Muhammad menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya. Waraqah pun meyakini dan membenarkan kerasulan Nabi dan menyatakan apa yang dialami Nabi Muhammad sama seperti yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Musa.

Setelah diceritakan secara detail, Waraqah bin Naufal mengatakan:

“Berbahagialah, kemudian berbahagialah. Aku bersaksi bahwa kau adalah orang yang (dijanjikan) membawa kabar gembira oleh (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya kau (didatangi malaikat) seperti Namus untuk Musa. Sesungguhnya kau adalah nabi yang diutus. Sesungguhnya kau akan diperintahkan untuk berjihad setelah harimu (diangkat menjadi nabi) ini, dan andai aku masih bertemu masa itu, sungguh, aku akan berjihad bersamamu.” (Imam Abu Bakr al-Baihaqi, Dalâ’il al-Nubuwwah, Kairo: Dar al – Rayyan li al-Turats, 1988, juz 2, hlm 158-159), seperti dilansir islam.nu.