Patrolmedia.co.id, Brasil – Polisi Federal menangkap eks Presiden Jair Bolsonaro atas rencana kabur dari hukuman 27 tahun penjara dengan kasus percobaan kudeta.
Jair Bolsonaro ditangkap dini hari Sabtu (22/11) di rumahnya di Brasilia, setelah hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes menilai alat pemantau kaki Bolsonaro sengaja dirusak.
Mengutip AP, Minggu (23/11/2025), Bolsonaro, 70 tahun, sebelumnya berstatus tahanan rumah. Polisi menyeretnya ke markas besar Federal Police setelah alat pemantau terdeteksi rusak pada pukul 00.08.
Namun tim kuasa hukum membantah tudingan itu dan menyebut Bolsonaro hanya mengikuti agenda doa bersama, bukan hendak kabur.
Di luar kantor polisi, simpatisan dan penentang Bolsonaro sempat terlibat ketegangan meski jumlahnya tak besar.
Polisi memisahkan 2 kubu yang saling membunyikan klakson dan melakukan aksi protes.
Hakim: Bolsonaro Diduga Mau Kabur ke Kedutaan AS
Hakim de Moraes menyebut tindakan merusak alat pemantau mengindikasikan Bolsonaro siap melarikan diri saat kerumunan protes yang digalang putranya, Flávio Bolsonaro, pada Sabtu malam.
Ia bahkan menyebut kemungkinan eks presiden itu kabur ke Kedutaan Besar AS yang jaraknya hanya 13 km dari rumah Bolsonaro.
Bolsonaro sebelumnya dikaitkan dengan pesan yang meminta suaka politik ke Argentina, tempat sekutunya Javier Milei menjabat presiden.
Trump, sekutu politik Bolsonaro, mengaku baru mengetahui kabar penangkapan itu.
“Sayang sekali,” ujarnya singkat saat ditanya di luar Gedung Putih.
Menjelang Eksekusi Hukuman, Pendukung & Pencela Bergerak
Media lokal melaporkan Bolsonaro bakal menjalani masa tahanannya pekan depan setelah seluruh upaya banding ditolak.
Para pendukungnya berjanji menggelar aksi doa dan solidaritas di lokasi penahanan, sementara para pencela menjadwalkan pesta perayaan di berbagai kota
De Moraes menilai ajakan Flavio Bolsonaro untuk berkumpul di rumah sang ayah sebagai tindakan menghasut dan melawan institusi demokrasi.
Ia menyebut kelompok Bolsonaro sebagai “organisasi kriminal” yang ingin menciptakan kekacauan.
Bolsonaro dan sejumlah sekutunya sebelumnya dinyatakan bersalah karena berupaya menggulingkan pemerintahan setelah kalah dari Lula dalam Pilpres 2022.
Jaksa menuduh rencana kudeta itu mencakup rencana pembunuhan terhadap Presiden Lula, Wapres Geraldo Alckmin, dan hakim de Moraes.
Kubu Bolsonaro Meradang
Sekutu dan keluarga Bolsonaro bereaksi keras. Fabio Wajngarten, mantan penasihat hukumnya, menyebut penangkapan itu “noda institusi” dan mengklaim alat pemantau kaki Bolsonaro “normal” hingga Sabtu pagi.
Michelle Bolsonaro juga menegaskan para pendukungnya tidak akan menyerah.
Sementara itu, Lula sedang berada di Afrika Selatan menghadiri KTT G20. Salah satu menterinya, Gleisi Hoffmann, menyebut penangkapan itu sebagai hasil upaya Bolsonaro yang terus menekan para hakim Mahkamah Agung.
Dampak Politik Jelang Pilpres 2026
Analis politik Creomar de Souza mengatakan penangkapan ini berpotensi mengubah dinamika Pilpres 2026.
Bolsonaro yang sudah dilarang maju disebut-sebut akan dijadikan simbol “martir politik” oleh keluarganya untuk mempertahankan pengaruh di pemilih sayap kanan.
“Mereka ingin pemilu 2026 jadi referendum soal Bolsonaro. Kini keluarga Bolsonaro harus mencari figur alternatif untuk bertarung,” kata de Souza.
(Kml/Ft)





















