
Patrolmedia -:- Israel bombardir Gaza melalui serangan udara pada Selasa pagi (18/3/25) yang menewaskan 400 warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, seperti diinformasikan Kementerian Kesehatan wilayah tersebut.
Israel bombardir Gaza secara diam-diam dan telah melanggar gencatan senjata yang berlangsung sejak Januari 2025 lalu.
Melansir AP, jumlah korban tewas yang tercatat menurut Kementerian Kesehatan Gaza sebanyak 404 orang tewas dalam serangan itu.
Sekentara, lebih dari 560 orang terluka. Tim penyelamat masih mencari reruntuhan.
Serangan itu menandai salah satu hari paling mematikan dalam perang yang telah menewaskan lebih dari 48.000 warga Palestina, menurut pejabat kesehatan setempat, dan menyebabkan sekitar 90% penduduk Gaza mengungsi.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan ia memerintahkan serangan karena kurangnya kemajuan dalam perundingan untuk memperpanjang gencatan senjata.
Pemerintah Israel beralasan serangan itu digempur karena Hamas berulang kali menolak membebaskan sandera mereka.
Serangan Israel ini juga berlangsung kala pembicaraan tahap dua gencatan senjata dengan Hamas dianggapnya lambat dan belum ada kemajuan apa pun.
Gedung Putih mengatakan telah diajak berkonsultasi dan menyatakan dukungan atas tindakan Israel.
Militer Israel memerintahkan orang-orang untuk mengungsi dari wilayah Gaza utara dan timur, yang mengindikasikan bahwa Israel dapat segera melancarkan operasi darat baru.
Kelompok militan Hamas belum memberikan tanggapan militer, menuduh Netanyahu telah membatalkan perjanjian gencatan senjata dan menempatkan sandera Israel “dalam situasi yang tidak diketahui.” Diperkirakan sekitar 2 lusin sandera Israel masih hidup dalam tahanan Hamas.
AS membela serangan Israel, menyalahkan Hamas atas ‘dimulainya kembali permusuhan’
Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB yang menegangkan, Dorothy Shea, wakil duta besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, membela keputusan Israel untuk melancarkan serangkaian serangan udara yang menewaskan lebih dari 400 warga Palestina, dan mengatakan penolakan Hamas untuk berunding memaksa dilakukannya tindakan militer.
“Kesalahan atas dimulainya kembali permusuhan sepenuhnya berada di tangan Hamas,” kata Shea, menggemakan reaksi pemerintahan Trump terhadap serangan tersebut. “Rakyat Gaza-lah yang akan semakin menderita karena Hamas mengabaikan nyawa manusia.”
Hamas membeber Israel belum datang ke meja perundingan dalam beberapa minggu terakhir untuk memulai tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata.
Editor: Fatmi Rahim






















