Serangan Udara Israel Puncak Upaya Netanyahu Keluar dari Gencatan Senjata

Serangan Udara Israel
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bersama Menteri Keuangannya, Bezalel Smotrich saat rapat kabinet mingguan di Kementerian Pertahanan di Tel Aviv, Israel, 7 Januari 2024. (Foto: Ronen Zvulun/Pool via AP, Arsip)
Serangan Udara Israel
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bersama Menteri Keuangannya, Bezalel Smotrich saat rapat kabinet mingguan di Kementerian Pertahanan di Tel Aviv, Israel, 7 Januari 2024. (Foto: Ronen Zvulun/Pool via AP, Arsip)

Patrolmedia -:- Serangan Udara Israel yang menewaskan lebih dari 409 warga Palestina di Jalur Gaza pada Selasa pagi (18/3/25) merupakan puncak upaya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk keluar dari gencatan senjata dengan Hamas yang telah berlangsung sejak Januari 2025.

Melansir AP, Rabu (19/3/25), saat gencatan senjata diberlakukan, Netanyahu menghadapi tekanan yang saling bertentangan dan tidak selaras.

Keluarga para sandera ingin Netanyahu membuat kesepakatan dengan Hamas untuk membebaskan mereka.

Sementara, mitra koalisi sayap kanan Israel ingin melanjutkan perang untuk memusnahkan Hamas.

Netanyahu jelas memihak pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang mendukung keputusan Netanyahu untuk secara sepihak keluar dari gencatan senjata yang diklaimnya sebagai penengah.

Israel dan AS menyalahkan Hamas mentah-mentah yang dianggap menolak membebaskan lebih banyak sandera.

Israel menuduh Hamas mempersiapkan serangan baru, namun tanpa bukti. Kelompok militan tersebut membantah keras tuduhan tersebut.

Hamas telah menghabiskan waktu berminggu-minggu menyerukan perundingan serius mengenai fase kedua perjanjian gencatan senjata.



Hamas menyerukan pembebasan sandera Israel yang masih hidup dengan imbal balik lebih banyak melepaskan waga Palestina yang ditahan dan menarik penuh pasukan Israel dari Gaza agar gencatan senjata langgeng.

Selama berbulan-bulan bernegosiasi pada Fase kedua, Netanyahu berulang kali meragukannya. Ia menegaskan Israel berkomitmen mengembalikan semua sandera.

Netanyahu berjanji akan menghancurkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas.

Netanyahu meragukan kemungkinan gencatan senjata yang langgeng sebelum Hamas dihancurkan.

“Kami berkomitmen untuk melanjutkan perang setelah jeda, untuk menyelesaikan tujuan melenyapkan Hamas. Saya tidak mau menyerah,” kata Netanyahu dalam oernyataannya du salah satu TV pada Juni lalu.

Pada tanggal 18 Januari, malam menjelang gencatan senjata, Netanyahu juga berniat untuk kembali berperang dengan Hamas.

“Kami berhak untuk kembali berperang jika perlu dengan dukungan Amerika Serikat,” kata Netanyahu.

Serangan udara Israel ini juga berlangsung kala pembicaraan tahap dua gencatan senjata dengan Hamas dianggapnya lambat dan belum ada kemajuan apa pun.

 

Editor: Fatmi Rahim