Patrolmedia, Haifa/Betlehem – Perayaan Natal di Palestina dan sejumlah wilayah di Israel berlangsung dalam bayang-bayang kekerasan dan penindasan.
Komunitas Kristen Palestina merayakan hari besar mereka di tengah dampak perang Israel di Gaza, pengawasan ketat aparat, serta pendudukan yang terus berlangsung.
Di Haifa, wilayah utara Israel, suasana perayaan Natal di kawasan Kristen Palestina Wadi al-Nisnas, berubah ricuh.
Polisi Israel dilaporkan menyerbu lokasi perayaan, menangkap, dan memukuli sejumlah warga.
Rekaman video dan kesaksian mata yang beredar di media sosial memperlihatkan aparat membubarkan acara saat keluarga-keluarga tengah mempersiapkan perayaan Natal.
Insiden itu menambah daftar tekanan terhadap warga Palestina, bahkan saat hari raya keagamaan.
Penindakan di Haifa terjadi bersamaan dengan perayaan Natal umat Kristen di berbagai wilayah Palestina imbas perang dan pembatasan oleh militer Israel.
Betlehem Rayakan Natal di Tengah Pendudukan
Sementara itu di Betlehem, kota kelahiran Yesus, perayaan Natal tetap digelar meski dalam kondisi serba terbatas.
Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, tiba di Lapangan Palungan membawa pesan solidaritas dari komunitas Kristen Gaza yang terkepung.
Di hadapan ribuan warga Palestina, baik Kristen maupun Muslim, Pizzaballa berpesan Natal 2025 ini tak terpisahkan dari penderitaan dan ketahanan rakyat Palestina.
“Kita memilih untuk menjadi terang. Dan terang Betlehem adalah terang dunia,” kata Pizzaballa, dikutip dari NewArab.
Namun, realitas di lapangan jauh dari kata ideal. Perang dan pembatasan Israel telah melumpuhkan ekonomi Betlehem.
Sekitar 80% warga kota bergantung pada sektor pariwisata yang kini nyaris mati. Tingkat pengangguran melonjak dari 14% menjadi 65%.
Sebagian besar peserta perayaan Natal adalah warga lokal. Pengunjung asing sangat minim, mencerminkan terisolasinya kota-kota Palestina akibat pembatasan perjalanan.
Harapan di Tengah Situasi Gelap
Bagi Georgette Jackaman, pemandu wisata asal Betlehem, Natal kali ini menjadi momen penuh emosi.
Ini merupakan perayaan Natal pertama yang benar-benar dirasakan kedua anaknya.
“Ini hari penuh harapan, tapi datang setelah masa yang sangat gelap,” sebut Jackaman.
Selama perang, ia dan suaminya membuka platform daring untuk menjual kerajinan Palestina demi membantu keluarga yang kehilangan mata pencaharian.
Pengunjung asal Prancis, Mona Riewer, mengaku tetap datang ke Betlehem meski ada peringatan keamanan.
“Natal adalah harapan di tengah situasi yang sangat gelap,” katanya.
Pos Pemeriksaan dan Kekerasan Terus Berlanjut
Meski gencatan senjata di Gaza diumumkan sejak Oktober, kekerasan di Tepi Barat belum berhenti.
Pasukan Israel setiap hari terus beroperasi, sementara PBB melaporkan serangan pemukim terhadap warga Palestina dilaporkan mencapai level tertinggi.
Pembatasan perjalanan juga semakin ketat. Irene Kirmiz, warga Ramallah yang hendak menghadiri parade Natal di Betlehem, mengatakan perjalanannya yang biasanya 40 menit kini memakan waktu berjam-jam akibat pos pemeriksaan Israel.
“Ini seharusnya momen damai, tapi setiap langkah kami diawasi dan dibatasi,” ujarnya.
Seiring memburuknya kondisi ekonomi, sekitar 4.000 warga Betlehem dilaporkan meninggalkan kota untuk mencari pekerjaan.
Saat ini, umat Kristen hanya tersisa kurang dari 2 persen dari populasi Tepi Barat, menurun akibat pendudukan, tekanan ekonomi, dan migrasi.
(Ipl/Ft)






















